Friday, December 28, 2007

Burton The Unlocker

Kira-kira dua minggu yang lalu saya mengalami musibah dengan salah satu motor saya, Mio. Bukan kecelakaan, tapi ketika saya terburu-buru mengenakan jas hujan pada anak-anak saya, tanpa sengaja tangan saya menyenggol jok yang ketika itu sedang terbuka. Padahal, di dalam jok itu sebelumnya saya taruh kunci motor. Saya baru menyadari itu ketika semua sudah siap dan mau berangkat. Saya kaget kok kunci motor tidak ada. Saya cari ke mana-mana pun tidak ada. Hingga akhirnya saya ingat bahwa pasti kunci motor itu ada di dalam jok yang sekarang sudah terkunci.
Praktis saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Segera saya panggil taksi untuk mengantar anak-anak pulang. Setelah mereka safe sampai rumah, baru saya mikir bagaimana caranya membawa motor itu pulang dari tempat parkir sekolah anak-anak. Saya lalu telpon ke seorang teman, siapa tahu dia punya ide. Dia menyarankan saya untuk datang ke tukang kunci yang biasanya ada di pinggir jalan. Dia sarankan saya untuk mengajak si tukang kunci ke motornya, lalu biarkan dia bekerja. Saya agak tidak percaya, karena biasanya kerjaan tukang kunci hanya menduplikat kunci saja, tapi saya jalankan juga saran itu.
Saya ajak tukang kunci yang tidak terlalu jauh kiosnya dari rumah saya. Namanya Burton. Saya sudah sering papasan dengan orang ini, tapi karena tidak kenal langsung dan belum pernah ada urusan sama dia, jadi baru saat itu saja saya kenalan. Saya bawa dia dengan taksi yang saya pakai sebelumnya ke tempat saya memarkir Mio.
Di taksi dia bilang bahwa segala macam urusan yang berhubungan dengan kunci dia bisa kerjakan. Insya Allah, semua bisa saya buka, kecuali pintu ke surga, katanya. Bahkan membuatkan kunci dari pintu yang sudah hilang kuncinya pun dia bisa. Malah dia menawarkan kalau ternyata kunci Mio saya itu ternyata tidak ada di bawah jok, maka dia bisa membuatkan kunci kontak Mio yang baru. Dia bisa lakukan itu di tempat. Lainnya, dia cerita bahwa dia sering mendapat panggilan malam bahkan dini hari dari orang yang kehilangan kunci rumahnya dan tidak bisa masuk. Saya masih agak skeptis karena mungkin dia ngomong begitu mau promosi. Tapi saya jadi berubah pikiran, ketika melihat dia bekerja.
Begitu turun dari taksi dia langsung saya tunjukkan Mio saya. Saya bahkan belum sempat selesai membayar taksi, dia sudah berhasil membuka jok Mio saya itu, dan menemukan kunci kontaknya. Gila! Cepat sekali. Bahkan terlalu cepat! Akhirnya saya bonceng dia kembali ke kiosnya dan dia minta 45 ribu. Ok-ok saja buat saya.
Jadi kepikiran, ada bagusnya juga saya simpan nomer hp si Burton ini. Who knows ? Dan terlintas, betapa sebenarnya sangat mudah bagi dia untuk menjadi pencuri. Pencuri apa saja! Apalagi rumah yang tidak dijaga sama sekali. Tidak semua orang yang memegang posisi basah dan duduk di kursi empuk yang harus punya ketahanan moral. Ada juga orang biasa, kelas pinggir jalan, yang kalau tidak punya ketahanan moral, dia bisa jadi jahat. Padahal, dilihat sepintas, nampaknya kehidupannya jauh dari mapan dan mungkin mudah membayangkan dia sekali-sekali bisa punya fleksibilitas moral yang mengizinkan dirinya jadi maling.

Wednesday, December 12, 2007

Long Time No Blog

Dengan load pekerjaan setiap hari yang begitu berat, belum lagi masalah-masalah pribadi / keluarga yang selalu harus didahulukan untuk selesai, bisakah seseorang diharapkan untuk selalu membuat entri baru pada blog-nya ? Saya bertanya begini karena dari dulu ingin sekali menjadi penulis setia blog karena memang kenyataan begitu banyak dalam kehidupan sehari-hari yang harus saya dokumentasikan dalam tulisan. Meskipun pada kenyataannya untuk sebagian besar sifatnya pribadi, bahkan sangat pribadi, tapi saya sekurangnya berusaha untuk tidak seperti yang dituduhkan secara sinis oleh kalangan tertentu yang skeptis pada blog, yaitu bahwa blog hanya untuk tempat mejeng, curhat, mengutuk orang, atau sekedar cuap-cuap yang terlalu remeh.
Terlalu remeh ? Memang inilah yang selalu segera dituduhkan pada saya, bahwa saya selalu serius. Tapi saya nggak peduli. This has been just the way I am. Sejak kuliah S1 dan kenal dengan berbagai perspektif pemikiran, peristiwa sehari-hari sering saya tafsirkan dengan menghubungkannya ke sana-sini. Turbulensi pemikiran yang ada, oleh karenanya, menjadikan tangan ini gatal untuk menuliskannya. Makanya begitu ingat blog, saya jadi gelisah nggak puguh karena ini baru menulis lagi sejak saya buat entry terakhir. Meskipun harus saya akui juga bahwa diri saya ini sekarang rada anakronis. Sudah lama tidak diam di kursi dan membaca buku baru.
Tapi ya sudah lah. Sekarang ada kesempatan nulis. Blog on.

Wednesday, August 29, 2007

Kimiawi Cinta

Banyak kenaifan dalam hidup kita sehari-hari. Salah satu contohnya adalah berpikir bahwa latar belakang atau penyebab dari sikap, tingkahlaku, persepsi, bahkan suasana hati kita itu disebabkan karena suatu hal yang sifatnya eksternal dari eksistensi diri kita. Padahal kenyataannya semua itu bersumber dari reaksi kimiawi dari berbagai macam hormon dalam tubuh kita. Judul tulisan ini sudah saya bayangkan berhari-hari. Sebenarnya tidak saja berkaitan dengan cinta, tapi juga berkaitan dengan berbagai hal lain dalam hidup kita.
Tidak mungkin saya membahas ini semua dalam satu tulisan blog. Saya di sini hanya akan mendaftar dulu nama-nama hormon dalam tubuh kita yang bertanggungjawab untuk semua itu. Lalu akan saya buatkan link per item ke blog lain yang saya dedikasikan khusus untuk ini. Kenapa mesti ada blog khusus ? Ya soalnya ini akan menjadi sebuah proyek riset kecil saya. Saya menuliskan ini juga sekalian untuk belajar. Tentu saja sebagian besar bahannya adalah dari search di Internet.
Hormon-hormon yang saya maksud kebanyakan sulit untuk diucapkan. Antara lain adalah :
  1. Dehydroepiandrosterone
  2. Oksitosin
  3. Phenylethylamine
  4. Estrogen
  5. Testosteron
  6. Serotonin
  7. Dopamin
  8. Progesteron
  9. Prolaktin
  10. Vasopressin
Barangkali bukan hanya itu saja. Bisa jadi ada yang lain. Saya akan tambahkan kemudian.

Thursday, August 09, 2007

Inspirasi dari 'Blood Diamond'

Nonton filem 'Blood Diamond' bukan hanya bikin saya terkagum-kagum pada bagaimana Leonardo DiCaprio mengubah aksen Inggrisnya, tapi juga inti ceritanya yang langsung membersitkan sebuah pertanyaan yang arahnya bisa menuju ke mana-mana. Apakah semua benda itu harus kita apresisasi sesuai dengan keberadaannya yang kongkrit di depan mata kita, atau kita harus juga meluaskannya ke riwayat bagaimana benda itu hadir, tercipta, dan lika-liku sejarahnya ? Apakah kita harus memperlakukan setiap buah cipta manusia tidak saja dengan nilai produksinya, tapi juga nilai kesejarahannya ?
Pikiran itu begitu mendalam ada di saya sehabis nonton karena saya sendiri merasa di belantara banjir benda-benda di zaman ini rasanya kok penghargaan kita pada benda-benda cenderung hanya dari nilai gunanya saja. Habis pakai, lalu dibuang atau disingkirkan. Ya, memang betul kita akan langsung berpikir soal nilai kesejarahan sebuah benda manakala yang kita hadapi adalah benda antik, misalnya. Tapi ya itu tadi, di zaman kita ini adalah zaman banjir benda-benda, dan yang saya maksud di sini adalah benda-benda baru keluaran sistem produksi industrial. Kita seperti diarahkan untuk hanya menghargai benda dari nilai kegunaannya saja.
Dalam bidang teknologi, nampaknya akan ada kecenderungan bahwa penghargaan untuk nilai kesejarahan sebuah prosuk teknologi akan mati sama sekali. Siapa yang bisa bangga menggunakan telpon selular yang bentuknya chubby, tidak bisa mengirim sms, berat, dan hanya untuk menelpon saja ? Parahnya lagi, produk keluaraan pabrik yang terbaru selalu lebih baik / bagus dari sebelumnya, bahkan lebih murah. Kita jadi gampang tergiur untuk membeli lagi, mengupdate lagi apa yang kita punya supaya tak ketinggalan dengan tren yang ada. Ada kecurigaan saya di sini. Mengapa ada kecenderungan bahwa produk yang lebih bagus / murah selalu muncul belakangan sesudah kita menggunakan / mengadopsi barang sebelumnya yang banyak kekurangannya dan mahal ? Apa jangan-jangan para periset di industri itu memang sengaja mengeluarkan barang setengah matang. Yang penting laik guna meski tidak sempurna. Lalu lempar saja ke pasar. Untung akan di dapat, dan untung akan didapat lagi ketika barang yang punya fungsi sama diupdate teknologinya, dipercanggih. Lalu iming-imingnya adalah lebih murah, lebih menguntungkan, dsb. Coba bayangkan, kenapa sistem operasi komputer mesti ganti-ganti terus ? Kenapa CDMA dipopulerkan belakangan setelah kita semua punya yang GSM ? Mungkin saya naif karena perkembangan teknologi tidak selalu sejajar dengan produksinya secara massal pada industri, tapi siapa yang tidak kesal ?
Sekarang, apakah inspirasi di atas tadi bisa kita kenakan pada manusia ? Persisnya pertanyaannya adalah, apakah kita seharusnya menghargai manusia itu tepat seperti kehadirannya di hadapan kita, yang lalu akan menyejarah dalam kebersamaannya dengan kita, atau kita juga mesti layangkan concern kita pada riwayatnya yang lalu ? Apakah bagi kita manusia itu suatu kenyataan yang imanen atau yang transenden ? Apakah manusia itu harus kita bayangkan sebagai keberadaan yang ketika mencapai tingkat tertentu akan identik dengan pencapaiannya itu, atau tidak ?
(bersambung)