Saya pernah membaca di sebuah resensi buku yang isinya mempertanyakan mengapa orang yang nampaknya sehari-hari baik, berprestasi, terpandang, dan sopan tiba-tiba ketahuan melakukan hal yang tidak masuk akal atau punya sisi lain yang tidak pantas secara sosial. Sebelum saya ceritakan yang ini, saya pernah mengalaminya dan saya ungkapkan di sini. Berbeda dengan itu, yang saya alami sekarang betul-betul dekat dengan saya sebagai pribadi. Sungguh tidak habis pikir, kenapa ini bisa terjadi.
Baru-baru ini saya merenungkan lagi konsep dalam Eksistensialisme yang disebut bad faith. Dalam konsep itu, menurut saya, dikatakan bahwa orang bisa sangat teridentifikasi dengan peran dan posisi sosialnya sehingga seolah-olah ia memang 100 persen seperti itu, tidak bisa lain. Saya kira ini tentu juga bisa dalam kaitannya dengan pilihan seseorang tentang perbuatannya. Orang yang sehari-harinya baik, berprestasi, terpandang, atau sopan akan segera mengesankan bahwa ia memang 100 persen seperti itu. Kita bahkan sulit untuk membayangkan sebuah figur yang sebaliknya pada orang itu. Tapi kata siapa dia tidak mungkin untuk menjadi sebaliknya ?
Saya termasuk yang percaya bahwa Kemanusiaan adalah sebuah konstruksi. Suatu konstruksi menjadi pilihan karena memang dirasakan fit dengan batas-batas eksistensi. Nah, yang menjadi masalah adalah, bagaimana mungkin seseorang secara diam-diam keluar dari konstruksi itu dan merasa bahwa itu adalah sebuah sikap / perilaku yang pantas dipilih ? Mengapa orang bisa merasa tidak nyaman lagi dengan perspektif kemapanan etis yang ada ?
Dalam bentuknya yang kongkrit, teori topeng itulah yang muncul. Dihadapan kita ia adalah sebuah figur yang oke-oke saja. Hingga saatnya ia berbuat kesalahan atau kecerobohannya membuat rahasia hitamnya itu terbongkar. Kalau sudah begitu, apakah sebaiknya kita selalu menyisakan ruang dalam diri kita bagi orang yang kita kenal, bahwa ia mungkin juga jadi seperti Dr. Jekyll and Mr. Hyde ?
Dalam psikologi, secara dingin itu dikatakan bahwa gejala-gejalanya bisa disebut mulai dari perilaku bipolar, psikopat, sampai kepribadian yang terbelah. Tapi dalam kehidupan nyata ini, berhadapan langsung dengan orang seperti itu adalah sebuah horor, apalagi kalau sampai pada kehidupan pribadi kita.
Saya melihat, sampai batas usia matang tertentu, orang bisa gamang terpenjara pada dua hal saja; dalam lingkup sosial adalah uang dan yang dalam lingkup personal atau intersubyektif adalah seks. Reduksi kemultidimensionalan ini terjadi secara serius karena tekanan kehidupan mudah menjauhkan orang dari semangat religius dan dengan mudah ia jatuh menjadi seorang komunis sejati yang kecil-kecilan. Hidup itu harus pantas, katanya, dan hari ini yang disebut pantas sering adalah yang masuk ke bawah sadar kita tentang apa yang kita lihat di televisi. Lalu karena semua orang berkeluarga dan keluarga itu adalah sebuah institusi shockbreaker buat kebinatangan kita, maka diam-diam banyak yang sebenarnya adalah ultra-freudian pragmatis. Bila kebinatangan itu dapat tersalurkan dengan baik, maka katanya segalanya pun akan menjadi baik dengan sendirinya. Aduh, terlalu banyak hilang. Di mana tempatnya bagi apresiasi tentang keindahan ? tentang seni, tentang puisi, tentang yang relatif ?
Saya ingin sekali berteori bahwa kepribadian yang ganda atau terbelah itu kalau tidak karena sebab-sebab yang psikiatrik, maka itu sebenarnya karena pemiskinan dimensi kehidupan. Orang jadi berpikir terlalu sederhana, bahwa hidup itu yang penting tinggal begini atau begitu. Jadi, terlalu banyak yang hilang, terlalu banyak yang tidak diapresiasi. Lalu, saya curiga bahwa ini dapat dengan mudah terjangkit pada orang-orang yang kerja dan profesinya menghadapkan dia pada pilihan hitam atau putih, dan yang darinya bisa mendapatkan uang dengan mudah.
Dengan cepat saya di sini membayangkan seorang yang naif. Dia bilang, kata siapa saya tidak punya apresiasi pada semua itu ? Buktinya saya punya ini itu, melakukan ini itu, dan beli ini itu. Salah kaprah ! Yang paling sulit di sini adalah bahwa sama sekali tidak ada jalan untuk membuktikan kepada orang lain bahwa kita sudah punya apresiasi yang memadai untuk kemultidimensionalan diri kita. Soalnya hanya kita sendiri lah yang tahu, dan di sini kita sama sekali tidak berurusan dengan indikator yang bisa dilihat. Lagian, semuanya ini tidak mungkin bisa instan, tapi lebih merupakan akumulasi dari proses belajar yang memakan waktu sepanjang hidup.
Akhirnya, ternyata memang persepsi kita gampang dipenjara oleh indra. Seeing is believing, katanya, dan bila kita melihat orang lain, maka fokus kita adalah pada wajahnya. Kita suka lupa, wajah boleh seperti orang suci, tapi dari tangannya, mungkin ia adalah seorang pelacur.
Saturday, July 07, 2007
Apa Sebenarnya Murtad Itu?
(Ini Saya tulis pada 2 September 2005)
Mengherankan, ada sebuah klaim tentang jalan yang paling benar menuju Tuhan. Ketika ada pihak lain punya jalannya sendiri, mereka tidak memberi hak hidup pada jalan itu, juga orang-orangnya, termasuk cara mereka menuju jalan itu. Yang lebih mengherankan, semua jalan yang ada menuju Tuhan itu juga menyatakan bahwa mereka mengajarkan kasih sayang, antikekerasan, dan segala ungkapan kemanusiaan yang lain. Akan tetapi pada prakteknya, ada saja di antara mereka yang menyulut kekerasan, penindasan mayoritas terhadap minoritas.
Paradoks itu mesti ditambah lagi dengan kenyataan yang sudah sama kita sering tahu. Ada orang yang rajin beribadah, tapi melakukan korupsi, kolusi, dan hal-hal busuk lain. Sementara ada orang yang mungkin atheis, atau sekurangnya agnostik, tapi malah terlihat dengan jelas melakukan hal-hal yang mempromosikan kasih sayang.
Apakah menjadi religius itu harus berorientasi vertikal atau horizontal ? Penutupan paksa tempat ibadah di Bandung / Jawa Barat dengan dalih bahwa telah terjadi pemurtadan agar terjadi perpindahan agama sungguh sangat disesalkan. Kalau kita telusuri hingga ke akar masalahnya paling dalam, apakah sebuah komunitas religius berhak melakukan intervensi kepada sebuah subyektifitas ? Pada sebuah milis bahkan dikatakan bahwa untuk murtad adalah sebuah hak bagi manusia, yang penting dengan apa yang dilakukannya itu ia telah berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Itu adalah suatu hal yang tentu akan membuat telinga orang biasa menjadi merah. Entah apa arti murtad atau pemurtadan sebenarnya, apakah selalu orientasinya negatif, atau apakah akar katanya malah punya konotasi yang sebenarnya netral saja.
Ketika sesuatu telah menjadi lembaga, adalah masuk akal kalau lalu ada langkah-langkah untuk menegaskan eksistensinya di antara yang lain. Untuk itu maka identitas dibentuk dan sadar atau tidak sadar para pendukung atau supporternya akan membuat langkah-langkah yang tidak akan membiarkan pelecehan terhadap identitas itu dengan cara apapun. Iya tapi itu kalau masalahnya berkenaan dengan hal-hal duniawi. Sungguh mencemaskan bahwa untuk hal-hal yang religius hal semacam itu terhadi. Telah terjadi obyektifikasi terhadap hal-hal yang subyektif.
Dan untuk itu, kita bisa memahami bahwa kata murtad adalah sesuatu yang harus punya konotasi jelek.
Mengherankan, ada sebuah klaim tentang jalan yang paling benar menuju Tuhan. Ketika ada pihak lain punya jalannya sendiri, mereka tidak memberi hak hidup pada jalan itu, juga orang-orangnya, termasuk cara mereka menuju jalan itu. Yang lebih mengherankan, semua jalan yang ada menuju Tuhan itu juga menyatakan bahwa mereka mengajarkan kasih sayang, antikekerasan, dan segala ungkapan kemanusiaan yang lain. Akan tetapi pada prakteknya, ada saja di antara mereka yang menyulut kekerasan, penindasan mayoritas terhadap minoritas.
Paradoks itu mesti ditambah lagi dengan kenyataan yang sudah sama kita sering tahu. Ada orang yang rajin beribadah, tapi melakukan korupsi, kolusi, dan hal-hal busuk lain. Sementara ada orang yang mungkin atheis, atau sekurangnya agnostik, tapi malah terlihat dengan jelas melakukan hal-hal yang mempromosikan kasih sayang.
Apakah menjadi religius itu harus berorientasi vertikal atau horizontal ? Penutupan paksa tempat ibadah di Bandung / Jawa Barat dengan dalih bahwa telah terjadi pemurtadan agar terjadi perpindahan agama sungguh sangat disesalkan. Kalau kita telusuri hingga ke akar masalahnya paling dalam, apakah sebuah komunitas religius berhak melakukan intervensi kepada sebuah subyektifitas ? Pada sebuah milis bahkan dikatakan bahwa untuk murtad adalah sebuah hak bagi manusia, yang penting dengan apa yang dilakukannya itu ia telah berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Itu adalah suatu hal yang tentu akan membuat telinga orang biasa menjadi merah. Entah apa arti murtad atau pemurtadan sebenarnya, apakah selalu orientasinya negatif, atau apakah akar katanya malah punya konotasi yang sebenarnya netral saja.
Ketika sesuatu telah menjadi lembaga, adalah masuk akal kalau lalu ada langkah-langkah untuk menegaskan eksistensinya di antara yang lain. Untuk itu maka identitas dibentuk dan sadar atau tidak sadar para pendukung atau supporternya akan membuat langkah-langkah yang tidak akan membiarkan pelecehan terhadap identitas itu dengan cara apapun. Iya tapi itu kalau masalahnya berkenaan dengan hal-hal duniawi. Sungguh mencemaskan bahwa untuk hal-hal yang religius hal semacam itu terhadi. Telah terjadi obyektifikasi terhadap hal-hal yang subyektif.
Dan untuk itu, kita bisa memahami bahwa kata murtad adalah sesuatu yang harus punya konotasi jelek.
Menjelang Hari Kematian "The Godfather of The Truth"
(Ini adalah tulisan yang saya buat tanggal 25 Februari 2005)
Saya masih ingat betul, di halaman-halaman awal bukunya Negroponte yang populer itu (Being Digital) dikesankan bahwa kehidupan cyber adalah sesuatu yang tidak wajar. Mungkin malah dikesankan bahwa dunia itu penuh dengan ekses yang membuat orang jadi melarikan diri dari kontak nyata dengan orang lain. Ya siapa yang bisa mengelak dari kebenaran itu kalau latarnya adalah sebuah penggunaan Internet yang overdosis? Memang betul, penelitian-penelitian di Amerika tentang penggunaan Internet mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa tinggal masalah waktu dan meningkatnya kualitas infrastruktur hingga akhirnya intensitas penggunaannya meningkat dan akan memiliki dampak buruk pada sosiabilitas orang yang menggunakannya. Tapi jangan lupa juga mesti dikatakan bahwa itu adalah efek yang paradoks, yang buat saya bukan hanya konseptual, tapi juga pada kenyataannya. Maksudnya, paradoks itu bukan hanya dari kenyataan bahwa Internet adalah sebuah teknologi komunikasi yang sebenarnya akan lebih memperkuat hubungan dan ikatan sosial yang dimiliki orang, tapi juga dari sebuah potensi yang dimiliki Internet dalam konteks intellectual discourse yang sangat demokratis. Intinya, kalau sudah mengatakan bahwa Internet itu punya dampak negatif, jangan lupa untuk juga mengedepankan bahwa medium ini punya kelebihan nyata yang pantas dirayakan.
Saya mungkin akan telah menulis ini dengan sangat emosional. Seperti kalau terlalu banyak yang ingin kita katakan ketika membela diri, sedangkan yang kita punya hanya satu mulut ini. Dalam kaitan itu Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membahas ulang problematika yang sering dijadikan ilustrasi dari pengantar Empirisisme tentang apa yang real dan tidak real, tapi saya harus sedikit mengesankan ke arah sana karena banyak orang yang dengan begitu mudah mengatakan bahwa pertemuan tatap muka adalah real, dan interaksi melalui Internet adalah tidak. Saya nggak mau ikut dalam arus pembagian itu, karena kesannya masalah real dan tidak real dalam kaitannya dengan Internet itu jadi soal selera dan perasaan, sedangkan esensinya dikesampingkan. Yang saya permasalahkan adalah sesuatu yang mengatasi real atau tidak real itu. Pertanyaannya memang dalam konteks intellectual discourse; apakah kebenaran bisa lebih terfasilitasi oleh medium Internet ?
Saya bukannya mau mencanangkan suatu kepribadian yang maniak ilmiah, tapi please pahami ini dalam konteks intellectual discourse itu. Jawaban atas pertanyaan itu buat saya adalah: Ya! Memang ada yang pasti menggugat dengan mengatakan bahwa yang disebut kebenaran adalah sesuatu yang tidak bisa obyektif dan berada dalam relasi di antara orang-orang yang memiliki dunia yang sama, bahkan kultur yang sama. Bukan itu. Maksud saya di sini adalah sebuah kebenaran dan proses untuk mencapainya yang bisa ditempuh oleh intersubyektifitas yang tidak diganggu oleh otoritas politis individu dan variasi karakter psikologis orang-orang yang mungkin saja di lain tempat mengklaim dirinya sebagai demokratis (plus mungkin religius!), tapi pada kenyataannya ia adalah seorang Godfather of the Truth.
Negroponte mungkin akan memberikan argumen yang sama seperti dalam bukunya untuk poin saya itu. Tapi coba bayangkan, di luar sana ada bapak-bapak dan ibu-ibu intelektual terhormat yang lupa bahwa dalam diri mereka telah tertanam bias individu yang begitu memalukan. Itu adalah hal yang biasanya mungkin menjadi bahan kasak-kusuk di dalam kelas oleh mahasiswa yang merasa sebal oleh kuliah dan pembawaan dosennya. Para mahasiswa tahu bahwa akan ada saatnya demi kelancaran studinya mereka akan harus menyerahkan idealisme yang mereka miliki untuk kekeraskepalaan sang pembimbing. Akan ada saatnya pula bagi mereka yang terus membawa semangat membela diri tapi akhirnya kandas dengan kesadaran bahwa memang betul; di ujung pendidikan, yang ada bukan lagi kebebasan untuk menjadi dan mengembangkan diri sendiri, tapi sebuah kepatuhan pada segalanya itu, mulai dari otoritas yang ada karena struktur hingga ke praksis intelektualitas yang tertutup, tidak dialogis, dan mungkin malah neurotik.
Saya mau bilang ini adalah skandal, tapi skandal dari jenis yang begitu lumrah karena memang tidak baru, terjadi terus-menerus, dan lokusnya tidak pada wilayah publik. Tapi coba lihat apa yang mungkin bisa terjadi melalui Internet ? Ya bukannya mau menganalogikan situasi mahasiswa-dosen itu secara langsung, tapi maksudnya lebih ke potensi dialog untuk munculnya kebenaran itu lho. Memang, interaksi melalui Internet itu ditandai oleh reduced sosial cues (kurang adanya isyarat-isyarat sosial) yang tanpanya (social cues itu) komunikasi mungkin akan bisa mengarah ke kesalahpahaman. Tapi lihat sekali lagi, bukankah melalui Internet komunikasi itu tidak sekedar one-way traffic ? Mereka yang malas mungkin akan bicara soal efisiensi di sini. Emangnya sejak kapan komunikasi melalui Internet harus kita lakukan dengan begitu susah payah sehingga untuk sekali melakukannya harus mempertimbangkan variabel itu ? Apakah harus bolak-balik ke warnet ? Apakah harus berulang-ulang melakukan dial-up ? Iya memang ada masalah infrastruktur di sini, tapi mereka yang berpegang pada argumen itu seperti diam-diam menganalogikan komunikasi pada media konvensional dengan Internet. Internet ya beda lagi. Orang yang memang sudah memutuskan untuk menggunakan media ini ya harus sekaligus mengasumsikan ia tidak hanya sekali saja melakukannya, dan punya tanggungjawab untuk kontinuitas komunikasinya demi dialog yang telah ia ikuti.
Meskipun ditandai dengan reduced social cues, tapi justru di situlah kekuatan interaksi melalui Internet. Di lain pihak interaksi sosial yang konvensional dalam rangka intellectual discourse itu saya pikir malah terlalu banyak outputnya diwarnai oleh social cues dari komunikator yang ada. Saya bicara soal kebenaran yang SEBISA MUNGKIN kita tampilkan wajahnya yang obyektif. Dalam tataran itu tentu jelas dengan sendirinya bahwa interaksi dalam rangka intellectual discourse yang kental diwarnai oleh social cues malah akan lebih menampilkan sisi subyektif dan kebenaran itu. Tapi bayangkan sebuah interaksi di mana yang menjadi penentu dari marketable-nya sebuah gagasan adalah kualitas gagasan itu sendiri, dan bukan terutama subyek yang mengemukakannya. Bukannya si subyek tidak penting. Ingat, sekali lagi di sini saya bicara soal kebenaran yang SEBISA MUNGKIN kita tampilkan wajahnya dengan obyektif. Jangan membawa ini ke luar konteksnya. Nah, bukankah interaksi melalui Internet adalah sebuah alternatif yang sangat menarik ?
Manakala marketable-nya atau survival-nya sebuah gagasan / konsep adalah lebih berkenaan dengan kualitasnya dan bukan subyek yang melontarkannya, maka akan terbuka bagi kemungkinan dihasilkannya output pemikiran yang lebih demokratis dan tentu saja dengan cara itu kita bisa mulai melihat jalan ke arah "obyektifitas" (dalam arti kurangnya intervensi subyektifitas). Mungkin berlebihan, tapi saya sangat tergoda untuk mengatakan bahwa pada setting dialog sosial yang represif, komunikasi dalam rangka kepentingan ilmiah sering berubah jadi semacam khotbah saja, dan keberadaan fisik komunikator adalah noise, bahkan distorsi bagi niat semula untuk mencapai yang luhur, altruistik, bahkan yang ilmiah. Sayangnya hingga kini Untuk sebagian besar orang, interaksi ilmiah melalui Internet belum mendapat tempat terhormat. Sialnya pada saat yang bersamaan yang lebih populer malahan gambar porno, hoax alias info palsu, virus, dan pencurian kartu kredit. Kapan para intelektual akan merayakan Internet sebagai sebuah jalan baru untuk menegaskan eksistensinya secara lebih jujur?
Ya akan ada saatnya. Sementara mungkin internet bagi mereka yang otoriter itu adalah sebuah inovasi yang adopsinya penuh dengan perjuangan serta persepsi tentang kerumitan dan ketidakpraktisan, mungkin mereka sendiri sadar bahwa potensi interaksi yang ada pada media ini pada akhirnya akan meminggirkan mereka, memberikan counter pada kredibilitas mereka yang selama ini tidak terusik, bahkan menjatuhkan mereka ke dalam perang flaming karena anonimitas yang bisa ada pada interaksi ini juga bisa menampilkan sisi gelapnya.
Barangkali memang masih lama juga. Tapi ketika itu terjadi, akan ada sekelompok orang yang bersulang untuk mensyukuri hari kematian the Godfather of the Truth. Saya tak akan ragu untuk bergabung dalam pesta itu.
Saya masih ingat betul, di halaman-halaman awal bukunya Negroponte yang populer itu (Being Digital) dikesankan bahwa kehidupan cyber adalah sesuatu yang tidak wajar. Mungkin malah dikesankan bahwa dunia itu penuh dengan ekses yang membuat orang jadi melarikan diri dari kontak nyata dengan orang lain. Ya siapa yang bisa mengelak dari kebenaran itu kalau latarnya adalah sebuah penggunaan Internet yang overdosis? Memang betul, penelitian-penelitian di Amerika tentang penggunaan Internet mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa tinggal masalah waktu dan meningkatnya kualitas infrastruktur hingga akhirnya intensitas penggunaannya meningkat dan akan memiliki dampak buruk pada sosiabilitas orang yang menggunakannya. Tapi jangan lupa juga mesti dikatakan bahwa itu adalah efek yang paradoks, yang buat saya bukan hanya konseptual, tapi juga pada kenyataannya. Maksudnya, paradoks itu bukan hanya dari kenyataan bahwa Internet adalah sebuah teknologi komunikasi yang sebenarnya akan lebih memperkuat hubungan dan ikatan sosial yang dimiliki orang, tapi juga dari sebuah potensi yang dimiliki Internet dalam konteks intellectual discourse yang sangat demokratis. Intinya, kalau sudah mengatakan bahwa Internet itu punya dampak negatif, jangan lupa untuk juga mengedepankan bahwa medium ini punya kelebihan nyata yang pantas dirayakan.
Saya mungkin akan telah menulis ini dengan sangat emosional. Seperti kalau terlalu banyak yang ingin kita katakan ketika membela diri, sedangkan yang kita punya hanya satu mulut ini. Dalam kaitan itu Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membahas ulang problematika yang sering dijadikan ilustrasi dari pengantar Empirisisme tentang apa yang real dan tidak real, tapi saya harus sedikit mengesankan ke arah sana karena banyak orang yang dengan begitu mudah mengatakan bahwa pertemuan tatap muka adalah real, dan interaksi melalui Internet adalah tidak. Saya nggak mau ikut dalam arus pembagian itu, karena kesannya masalah real dan tidak real dalam kaitannya dengan Internet itu jadi soal selera dan perasaan, sedangkan esensinya dikesampingkan. Yang saya permasalahkan adalah sesuatu yang mengatasi real atau tidak real itu. Pertanyaannya memang dalam konteks intellectual discourse; apakah kebenaran bisa lebih terfasilitasi oleh medium Internet ?
Saya bukannya mau mencanangkan suatu kepribadian yang maniak ilmiah, tapi please pahami ini dalam konteks intellectual discourse itu. Jawaban atas pertanyaan itu buat saya adalah: Ya! Memang ada yang pasti menggugat dengan mengatakan bahwa yang disebut kebenaran adalah sesuatu yang tidak bisa obyektif dan berada dalam relasi di antara orang-orang yang memiliki dunia yang sama, bahkan kultur yang sama. Bukan itu. Maksud saya di sini adalah sebuah kebenaran dan proses untuk mencapainya yang bisa ditempuh oleh intersubyektifitas yang tidak diganggu oleh otoritas politis individu dan variasi karakter psikologis orang-orang yang mungkin saja di lain tempat mengklaim dirinya sebagai demokratis (plus mungkin religius!), tapi pada kenyataannya ia adalah seorang Godfather of the Truth.
Negroponte mungkin akan memberikan argumen yang sama seperti dalam bukunya untuk poin saya itu. Tapi coba bayangkan, di luar sana ada bapak-bapak dan ibu-ibu intelektual terhormat yang lupa bahwa dalam diri mereka telah tertanam bias individu yang begitu memalukan. Itu adalah hal yang biasanya mungkin menjadi bahan kasak-kusuk di dalam kelas oleh mahasiswa yang merasa sebal oleh kuliah dan pembawaan dosennya. Para mahasiswa tahu bahwa akan ada saatnya demi kelancaran studinya mereka akan harus menyerahkan idealisme yang mereka miliki untuk kekeraskepalaan sang pembimbing. Akan ada saatnya pula bagi mereka yang terus membawa semangat membela diri tapi akhirnya kandas dengan kesadaran bahwa memang betul; di ujung pendidikan, yang ada bukan lagi kebebasan untuk menjadi dan mengembangkan diri sendiri, tapi sebuah kepatuhan pada segalanya itu, mulai dari otoritas yang ada karena struktur hingga ke praksis intelektualitas yang tertutup, tidak dialogis, dan mungkin malah neurotik.
Saya mau bilang ini adalah skandal, tapi skandal dari jenis yang begitu lumrah karena memang tidak baru, terjadi terus-menerus, dan lokusnya tidak pada wilayah publik. Tapi coba lihat apa yang mungkin bisa terjadi melalui Internet ? Ya bukannya mau menganalogikan situasi mahasiswa-dosen itu secara langsung, tapi maksudnya lebih ke potensi dialog untuk munculnya kebenaran itu lho. Memang, interaksi melalui Internet itu ditandai oleh reduced sosial cues (kurang adanya isyarat-isyarat sosial) yang tanpanya (social cues itu) komunikasi mungkin akan bisa mengarah ke kesalahpahaman. Tapi lihat sekali lagi, bukankah melalui Internet komunikasi itu tidak sekedar one-way traffic ? Mereka yang malas mungkin akan bicara soal efisiensi di sini. Emangnya sejak kapan komunikasi melalui Internet harus kita lakukan dengan begitu susah payah sehingga untuk sekali melakukannya harus mempertimbangkan variabel itu ? Apakah harus bolak-balik ke warnet ? Apakah harus berulang-ulang melakukan dial-up ? Iya memang ada masalah infrastruktur di sini, tapi mereka yang berpegang pada argumen itu seperti diam-diam menganalogikan komunikasi pada media konvensional dengan Internet. Internet ya beda lagi. Orang yang memang sudah memutuskan untuk menggunakan media ini ya harus sekaligus mengasumsikan ia tidak hanya sekali saja melakukannya, dan punya tanggungjawab untuk kontinuitas komunikasinya demi dialog yang telah ia ikuti.
Meskipun ditandai dengan reduced social cues, tapi justru di situlah kekuatan interaksi melalui Internet. Di lain pihak interaksi sosial yang konvensional dalam rangka intellectual discourse itu saya pikir malah terlalu banyak outputnya diwarnai oleh social cues dari komunikator yang ada. Saya bicara soal kebenaran yang SEBISA MUNGKIN kita tampilkan wajahnya yang obyektif. Dalam tataran itu tentu jelas dengan sendirinya bahwa interaksi dalam rangka intellectual discourse yang kental diwarnai oleh social cues malah akan lebih menampilkan sisi subyektif dan kebenaran itu. Tapi bayangkan sebuah interaksi di mana yang menjadi penentu dari marketable-nya sebuah gagasan adalah kualitas gagasan itu sendiri, dan bukan terutama subyek yang mengemukakannya. Bukannya si subyek tidak penting. Ingat, sekali lagi di sini saya bicara soal kebenaran yang SEBISA MUNGKIN kita tampilkan wajahnya dengan obyektif. Jangan membawa ini ke luar konteksnya. Nah, bukankah interaksi melalui Internet adalah sebuah alternatif yang sangat menarik ?
Manakala marketable-nya atau survival-nya sebuah gagasan / konsep adalah lebih berkenaan dengan kualitasnya dan bukan subyek yang melontarkannya, maka akan terbuka bagi kemungkinan dihasilkannya output pemikiran yang lebih demokratis dan tentu saja dengan cara itu kita bisa mulai melihat jalan ke arah "obyektifitas" (dalam arti kurangnya intervensi subyektifitas). Mungkin berlebihan, tapi saya sangat tergoda untuk mengatakan bahwa pada setting dialog sosial yang represif, komunikasi dalam rangka kepentingan ilmiah sering berubah jadi semacam khotbah saja, dan keberadaan fisik komunikator adalah noise, bahkan distorsi bagi niat semula untuk mencapai yang luhur, altruistik, bahkan yang ilmiah. Sayangnya hingga kini Untuk sebagian besar orang, interaksi ilmiah melalui Internet belum mendapat tempat terhormat. Sialnya pada saat yang bersamaan yang lebih populer malahan gambar porno, hoax alias info palsu, virus, dan pencurian kartu kredit. Kapan para intelektual akan merayakan Internet sebagai sebuah jalan baru untuk menegaskan eksistensinya secara lebih jujur?
Ya akan ada saatnya. Sementara mungkin internet bagi mereka yang otoriter itu adalah sebuah inovasi yang adopsinya penuh dengan perjuangan serta persepsi tentang kerumitan dan ketidakpraktisan, mungkin mereka sendiri sadar bahwa potensi interaksi yang ada pada media ini pada akhirnya akan meminggirkan mereka, memberikan counter pada kredibilitas mereka yang selama ini tidak terusik, bahkan menjatuhkan mereka ke dalam perang flaming karena anonimitas yang bisa ada pada interaksi ini juga bisa menampilkan sisi gelapnya.
Barangkali memang masih lama juga. Tapi ketika itu terjadi, akan ada sekelompok orang yang bersulang untuk mensyukuri hari kematian the Godfather of the Truth. Saya tak akan ragu untuk bergabung dalam pesta itu.
Harga Empati dan Subyektifitas untuk seorang Psikolog
(Ini adalah tulisan yang saya buat bulan Februari 2005)
-- ini adalah insinuasi untuk seseorang --
Semua orang pernah menjalani waktu di mana sesudahnya ia menjadi sadar dengan cara yang tidak biasa tentang makna sesuatu, tentang harga sesuatu. Semakin sering dan banyak ia mengalami itu, ia semakin menjadi tidak naif, dewasa, dan tahu caranya melihat dan memperlakukan sesuatu dengan lebih baik. Saya pikir itu adalah bagian dari proses menjadi manusia. Banyak proses itu harus dijalani dengan bawaan perasaan yang tidak menyenangkan, kesedihan, bahkan penderitaan. Segalanya memang adil. Kita menderita, tapi kita pasti mendapatkan sesuatu dari penderitaan itu.
Yang berbahaya adalah manakala ada seseorang yang hidupnya relatif mulus, tapi dia memiliki jabatan atau profesi yang berhubungan dengan subyektifitas orang. Psikolog dan Psikiater adalah dua profesi yang paling saya maksud. Ada lagi, tapi saya tidak begitu yakin, yaitu dokter dan mereka yang berprofesi di bidang hukum. Mereka yang pekerjaannya berkaitan dengan kejiwaan orang lain akan sangat parah jadinya kalau mereka terlalu obyektif, kurang empatik, naif, dan hidupnya terlalu bahagia.
Terlalu bahagia? Iya bukannya tidak mungkin mereka untuk belajar, tapi pertanyaan pentingnya adalah apakah nilai, makna, dan harga sebuah penderitaan dapat diabstraksikan dengan rasionalitas ? Maksud saya, tanpa mengalami sendiri suatu pengalaman penderitaan, apakah seseorang bisa diharapkan memahami sepenuhnya kedalaman perasaan dan pikiran orang yang sedang ditimpa kemalangan? Ada beberapa hal yang bisa diabstraksikan begitu, tapi saya yakin ada perbedaan kualitas antara belajar memahami sesuatu dengan susah payah melalui pengalaman langsung dan yang hanya belajar memahaminya melalui common sense. Bahaya yang ada adalah, mereka yang mempelajari hal-hal subyektif dari orang lain tanpa mengalaminya sendiri (atau tanpa empati yang memadai) akan cenderung jatuh ke dalam obyektifitas. Alias, menilai dan mengukur segalanya melalui kategori-kategori dengan derajat atau arah-arahan ke kepastian tertentu.
Soal obyektifitas itu, ada hari-hari dalam sejarah pemikiran tentang manusia di mana pertentangan yang ada adalah antara obyektifitas dan subyektifitas. Antara Ilmu dan Filsafat, antara berpikir sistematis dan diagnostik. Ini bukan soal benar atau salah, tapi lebih ke soal apakah kita mau lebih bijaksana. Kalau kita mau lebih bijaksana, ya kedua perspektif itu harus kita ambil untuk menilai sesuatu. Tapi bahkan kesadaran akan hal ini ternyata sering juga tidak bisa diharapkan muncul setelah seseorang memahaminya secara rasional. Orang cenderung obyektif. Orang cenderung mendasarkan segala persepsinya pada kategori-kategori yang ada di kepalanya. Dalam hal ini, saya yakin bahwa seorang psikolog muda juga cenderung obyektif. Maka lebih aman bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang obyektif seperti menganalisa hasil tes atau membuat profil kepribadian. Tapi kalau diserahkan kepada mereka tugas-tugas konsultasi, nampaknya mereka harus menerimanya dengan sebuah kerendahan hati.
Saya bukan psikolog, tapi saya tidak mau bodoh. Dan saya ingin mengajak siapa saja untuk juga tidak bersikap taken-for-granted pada apa yang dikatakan oleh seorang Psikolog, siapapun dia. Malangnya, orang kebanyakan mungkin menghadapi mereka dengan sikap yang kurang lebih sama ketika mereka menghadapi dokter. Mereka menyerahkan subyektifitas mereka dengan imajinasi bahwa seorang psikolog mungkin lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri. Saya di sini tidak sedang mencanangkan semacam gerakan anti-psikologi, tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa pengalaman kita tentang diri kita sendiri punya harga. Harga yang sangat mahal, dan pengalaman itu tidak bisa diutak-atik begitu saja oleh intrusi dari orang luar. Nampaknya yang diperlukan memang bukan saja seorang psikolog yang tidak naif, tapi juga promosi tentang bagaimana cara kita bersikap memperlakukan psikolog.
Seperti sebuah takdir mungkin, bahwa yang obyektif itu yang cenderung menang, dan yang subyektif adalah yang terpinggirkan. Sikap obyektif adalah sebuah cara yang memungkinkan kita bisa melakukan 'share' dengan orang lain karena dengannya kita bisa mengidentifikasikan hal-hal yang relatif sama dalam pengalaman kita. Kita perlu untuk bersikap obyektif, tapi demi penghormatan dan apresiasi kita bahwa Kebenaran itu tidak sekedar hitam-putih, maka kita mesti memberi tempat yang semestinya pada subyektifitas. Ada hal dalam diri manusia yang kedalamannya tidak bisa diukur dengan kata-kata, tidak bisa dibahasakan sama sekali. Maka dari itu harga empati dan subyektifitas bagi seorang psikolog adalah setali dengan kemanusiaannya sendiri: kemanusiaannya yang dengan rendah hati wajib membuka diri dan sadar sepenuhnya bahwa ia mudah terjerumus ke dalam obyektifitas yang mungkin menghakimi orang lain bahkan dunia.
Usia Kemanusiaan mungkin memang sudah ribuan tahun dan sudah ditulis serta dicatat dalam sejarah berbagai macam literatur. Tapi apakah kalau begitu harus diandaikan sudah tidak ada lagi yang tidak terduga? Perlu waktu untuk segalanya bisa terungkap. Namun banyak dari kita yang tidak bisa berharap itu terjadi dengan membiarkannya begitu saja berlalu. Mungkin memang kita harus dengan sadar membuatnya mengalir terus dalam darah, hingga akhirnya merasuk ke dalam seluk beluk, relung-relung hidup kita.
-- ini adalah insinuasi untuk seseorang --
Semua orang pernah menjalani waktu di mana sesudahnya ia menjadi sadar dengan cara yang tidak biasa tentang makna sesuatu, tentang harga sesuatu. Semakin sering dan banyak ia mengalami itu, ia semakin menjadi tidak naif, dewasa, dan tahu caranya melihat dan memperlakukan sesuatu dengan lebih baik. Saya pikir itu adalah bagian dari proses menjadi manusia. Banyak proses itu harus dijalani dengan bawaan perasaan yang tidak menyenangkan, kesedihan, bahkan penderitaan. Segalanya memang adil. Kita menderita, tapi kita pasti mendapatkan sesuatu dari penderitaan itu.
Yang berbahaya adalah manakala ada seseorang yang hidupnya relatif mulus, tapi dia memiliki jabatan atau profesi yang berhubungan dengan subyektifitas orang. Psikolog dan Psikiater adalah dua profesi yang paling saya maksud. Ada lagi, tapi saya tidak begitu yakin, yaitu dokter dan mereka yang berprofesi di bidang hukum. Mereka yang pekerjaannya berkaitan dengan kejiwaan orang lain akan sangat parah jadinya kalau mereka terlalu obyektif, kurang empatik, naif, dan hidupnya terlalu bahagia.
Terlalu bahagia? Iya bukannya tidak mungkin mereka untuk belajar, tapi pertanyaan pentingnya adalah apakah nilai, makna, dan harga sebuah penderitaan dapat diabstraksikan dengan rasionalitas ? Maksud saya, tanpa mengalami sendiri suatu pengalaman penderitaan, apakah seseorang bisa diharapkan memahami sepenuhnya kedalaman perasaan dan pikiran orang yang sedang ditimpa kemalangan? Ada beberapa hal yang bisa diabstraksikan begitu, tapi saya yakin ada perbedaan kualitas antara belajar memahami sesuatu dengan susah payah melalui pengalaman langsung dan yang hanya belajar memahaminya melalui common sense. Bahaya yang ada adalah, mereka yang mempelajari hal-hal subyektif dari orang lain tanpa mengalaminya sendiri (atau tanpa empati yang memadai) akan cenderung jatuh ke dalam obyektifitas. Alias, menilai dan mengukur segalanya melalui kategori-kategori dengan derajat atau arah-arahan ke kepastian tertentu.
Soal obyektifitas itu, ada hari-hari dalam sejarah pemikiran tentang manusia di mana pertentangan yang ada adalah antara obyektifitas dan subyektifitas. Antara Ilmu dan Filsafat, antara berpikir sistematis dan diagnostik. Ini bukan soal benar atau salah, tapi lebih ke soal apakah kita mau lebih bijaksana. Kalau kita mau lebih bijaksana, ya kedua perspektif itu harus kita ambil untuk menilai sesuatu. Tapi bahkan kesadaran akan hal ini ternyata sering juga tidak bisa diharapkan muncul setelah seseorang memahaminya secara rasional. Orang cenderung obyektif. Orang cenderung mendasarkan segala persepsinya pada kategori-kategori yang ada di kepalanya. Dalam hal ini, saya yakin bahwa seorang psikolog muda juga cenderung obyektif. Maka lebih aman bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang obyektif seperti menganalisa hasil tes atau membuat profil kepribadian. Tapi kalau diserahkan kepada mereka tugas-tugas konsultasi, nampaknya mereka harus menerimanya dengan sebuah kerendahan hati.
Saya bukan psikolog, tapi saya tidak mau bodoh. Dan saya ingin mengajak siapa saja untuk juga tidak bersikap taken-for-granted pada apa yang dikatakan oleh seorang Psikolog, siapapun dia. Malangnya, orang kebanyakan mungkin menghadapi mereka dengan sikap yang kurang lebih sama ketika mereka menghadapi dokter. Mereka menyerahkan subyektifitas mereka dengan imajinasi bahwa seorang psikolog mungkin lebih tahu tentang diri kita daripada kita sendiri. Saya di sini tidak sedang mencanangkan semacam gerakan anti-psikologi, tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa pengalaman kita tentang diri kita sendiri punya harga. Harga yang sangat mahal, dan pengalaman itu tidak bisa diutak-atik begitu saja oleh intrusi dari orang luar. Nampaknya yang diperlukan memang bukan saja seorang psikolog yang tidak naif, tapi juga promosi tentang bagaimana cara kita bersikap memperlakukan psikolog.
Seperti sebuah takdir mungkin, bahwa yang obyektif itu yang cenderung menang, dan yang subyektif adalah yang terpinggirkan. Sikap obyektif adalah sebuah cara yang memungkinkan kita bisa melakukan 'share' dengan orang lain karena dengannya kita bisa mengidentifikasikan hal-hal yang relatif sama dalam pengalaman kita. Kita perlu untuk bersikap obyektif, tapi demi penghormatan dan apresiasi kita bahwa Kebenaran itu tidak sekedar hitam-putih, maka kita mesti memberi tempat yang semestinya pada subyektifitas. Ada hal dalam diri manusia yang kedalamannya tidak bisa diukur dengan kata-kata, tidak bisa dibahasakan sama sekali. Maka dari itu harga empati dan subyektifitas bagi seorang psikolog adalah setali dengan kemanusiaannya sendiri: kemanusiaannya yang dengan rendah hati wajib membuka diri dan sadar sepenuhnya bahwa ia mudah terjerumus ke dalam obyektifitas yang mungkin menghakimi orang lain bahkan dunia.
Usia Kemanusiaan mungkin memang sudah ribuan tahun dan sudah ditulis serta dicatat dalam sejarah berbagai macam literatur. Tapi apakah kalau begitu harus diandaikan sudah tidak ada lagi yang tidak terduga? Perlu waktu untuk segalanya bisa terungkap. Namun banyak dari kita yang tidak bisa berharap itu terjadi dengan membiarkannya begitu saja berlalu. Mungkin memang kita harus dengan sadar membuatnya mengalir terus dalam darah, hingga akhirnya merasuk ke dalam seluk beluk, relung-relung hidup kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)